Episode 83: “Gerbang Auralith”

√ Episode 83: “Gerbang Auralith”

Episode 83: “Gerbang Auralith”



Mufasa Adventure – Episode 83: “Gerbang Auralith”

Aile Strike Gundam bergerak mendekati Pilar Cahaya, dan akhirnya tanah yang sebelumnya kosong mulai menunjukkan tanda-tanda peradaban. Di kejauhan, tampak sebuah pemukiman besar dengan dinding logam raksasa mengelilinginya.

Radar membaca identifikasi sederhana yang terpampang di permukaan datar di depan gerbang:

KOTA KUBAH AURION

Kota itu adalah struktur berbentuk lingkaran dengan dinding metalik keperakan setinggi menara. Tidak ada patung atau gambar apa pun terukir di dindingnya — hanya permukaan halus tanpa ornamen.

Mufasa menghentikan Aile Strike Gundam tepat di depan pintu masuk kota. Ia turun dari kokpit dan berjalan mendekati gerbang dengan jubah coklatnya berkibar.

Pertemuan dengan Penjaga Gerbang

Pintu raksasa terbuka perlahan, mengeluarkan suara mekanis berat. Dari balik pintu muncul tiga penjaga berpostur manusia, memakai armor logis berwarna abu-abu gelap dengan lambang garis horizontal tiga warna sebagai identitas. Mereka bukan ras unik — hanya manusia, sama seperti Mufasa.

Pemimpin mereka memperkenalkan diri,
“Aku Rathos Veldt, Komandan Gerbang Aurion. Sebutkan tujuanmu memasuki kota.”

Mufasa menjawab tanpa keraguan,
“Aku menuju Pilar Cahaya.”

Suasana langsung berubah tegang. Dua penjaga lain memegang senjata panjang berbentuk senapan bertenaga tekan — bukan energi — mekanisme yang realistis sesuai dunia ini.

Rathos menatap Mufasa dengan serius.
“Banyak orang mencoba menuju Pilar Cahaya, tapi tidak ada satu pun yang kembali. Kau ingin mati?”

“Aku tidak datang untuk mati,” ucap Mufasa tenang. “Aku datang untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.”

Rathos terdiam sejenak, menimbang ucapannya.

Informasi Penting dari Kota

Akhirnya Rathos berkata, “Jika kau memang ingin masuk, ada satu tempat yang harus kau datangi dulu — Terminal Pemetaan Auralith. Hanya di sana ada peta akurat yang bisa membawamu melewati zona berbahaya menuju Pilar Cahaya.”

Rathos menyingkir dan memberi jalan.
Pintu gerbang terbuka penuh, memperlihatkan kota yang sangat fungsional: bangunan logam, struktur rendah, jalan lebar untuk kendaraan atau armor besar. Tidak ada ukiran, tidak ada patung — semua desain murni berdasarkan efisiensi.

Terminal Pemetaan Auralith

Mufasa memasuki bangunan itu. Ruangan luas, sejumlah orang bekerja di terminal layar datar besar yang memancarkan peta taktis wilayah Auralith.

Petugas yang bertugas adalah perempuan dengan rambut pendek gelap, kulit kecoklatan, dan seragam putih sederhana. Namanya Drayla Winset.

“Apa keperluanmu di sini?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Aku butuh peta jalur menuju Pilar Cahaya.”

Drayla menatapnya cukup lama, lalu membuka file peta di terminal.

“Zona menuju Pilar Cahaya adalah daerah paling mematikan di Auralith. Gurun Glasstal, Tebing Zaitra, dan Kawasan Dampak Kadmina. Kalau kau salah langkah satu kilometer saja, kau tidak akan bertahan.”

Ia menggeser peta ke arah Mufasa.

Lalu ia mengucapkan sesuatu yang membuat suasana mengeras.

“Selain itu, sudah ada penjaga baru di sekitar Pilar Cahaya. Monster baru — belum pernah tercatat sebelumnya.”

Mufasa menatapnya tenang.
“Aku akan menghadapi apa pun yang ada di sana.”

Drayla menghela napas tipis, lalu menyimpan peta digital mini ke dalam bentuk kartu data dan menyerahkannya.

“Simpan ini. Dan ingat… jika kau sampai di Pilar Cahaya, jangan berharap ada yang bisa membantumu di sana.”

Mufasa menerima kartu data itu dan keluar dari gedung.

Penutup Episode

Aile Strike Gundam berdiri tegak menunggu di luar, seakan merasakan keseriusan misi baru.

Mufasa menaiki kokpit dan menyimpan kartu data ke konsol navigasi. Peta langsung terhubung, menampilkan jalur melewati:

  1. Gurun Glasstal

  2. Tebing Zaitra

  3. Kawasan Dampak Kadmina

Semua menuju satu titik:
Pilar Cahaya Auralith

Mesin Aile Strike menyala, booster Aile Pack mengangkatnya perlahan.

“Aku tidak datang sejauh ini untuk berhenti.”

Gundam lalu bergerak ke arah garis horizon — menuju gurun pertama.


Bersambung ke Episode 84: “Gurun Glasstal”

Share on Social Media