Episode 84: “Gurun Glasstal”

√ Episode 84: “Gurun Glasstal”

Episode 84: “Gurun Glasstal”



Mufasa Adventure – Episode 84: “Gurun Glasstal”

Aile Strike Gundam tiba di batas Gurun Glasstal, daerah pertama yang harus dilewati untuk mencapai Pilar Cahaya. Di depan terlihat hamparan luas berwarna perak pucat, bukan pasir biasa — terbuat dari pecahan mineral halus seperti kristal kaca.

Setiap langkah kaki Aile Strike menimbulkan suara gesekan tajam.

Mufasa menyesuaikan kecepatan agar tidak menimbulkan tekanan berlebihan pada kaki armor.
“Kalau aku bergerak terlalu agresif, permukaan gurun bisa runtuh dari bawah,” pikirnya.

Bahaya Gurun

Kartu data menunjukkan tanda peringatan berwarna merah:

Zona Geser – Struktur tanah tidak stabil

Tidak lama kemudian gurun bereaksi. Permukaan runtuh membentuk lubang besar. Dari bawah keluarlah monster gurun berbentuk cacing raksasa dengan tubuh tersusun mineral kristal kaca yang tajam.

Monster itu muncul sepenuhnya ke permukaan — panjangnya seperti gedung bertingkat.

Kartu data mengidentifikasi:
Nama: Crixus Clasal
Jenis: Predator mineral glasstal
Lokasi: Gurun Glasstal

Crixus Clasal mengeluarkan suara gesekan mineral yang tajam dan kemudian menerjang.

Pertempuran

Mufasa langsung menarik 57mm High-energy Beam Rifle, menembakkan serangan pembuka.
Tembakan menjebol sebagian luar tubuh monster, tetapi pecahannya menyebar ke segala arah seperti pecahan kaca. Aile Strike menutupi badan dengan shield panjang di tangan kiri untuk menahan pecahan berbahaya.

“Monster ini bisa pecah dan menyebar seperti bom bila diserang sembarangan…”

Crixus Clasal menyelam lagi ke bawah gurun. Sensor radar menangkap pergerakannya cepat, seperti torpedo bawah tanah.

Mufasa mengunci lokasi.
Ia menyimpan rifle di waist skirt dan menarik dua beam saber Gundam dari backpack Aile Pack.

Crixus Clasal menerobos tanah tepat ke arah Aile Strike.

Saat monster keluar dari bawah, Mufasa mengayunkan kedua beam saber bersilang ke bagian kepala monster.

Serangan tepat sasaran. Namun ia menarik kembali secepat mungkin agar pecahan tidak mengenai armor secara langsung. Kepalanya terbelah, tubuh raksasa itu bergetar hebat, lalu roboh tanpa meledak karena titik vital dihancurkan presisi.

Tumpukan mineral kaca berguguran ke gurun tanpa efek bahaya lebih lanjut.

“Kalau aku tidak memotongnya tepat di bagian leher, semuanya bisa meledak dan menyapu area luas… Gurun ini tidak main-main.”

Bahaya Kedua

Sensor tiba-tiba menampilkan banyak titik merah kecil di layar.

Crixus Clasal kecil — ukuran seperti buaya — muncul dari bawah gurun dalam jumlah besar.

Ini bukan situasi untuk bertarung panjang.
Mufasa masuk ke mode mobilitas.

Aile Pack dinyalakan penuh.
Aile Strike bergerak dengan lompatan panjang berulang-ulang, menghindari kontak langsung dengan monster-monster kecil yang mencoba menggigit armor.

Tentu saja, setiap lompatan harus diperhitungkan agar tanah tidak ambruk.

Setelah beberapa menit melewati zona paling aktif, titik merah di radar perlahan menghilang. Gerakan Aile Strike melambat kembali ke kondisi normal.

Penanda Alam

Di depan, gurun mulai menunjukkan garis gelap memanjang seperti batas wilayah.
Itu bukan kota, bukan bangunan — hanya daerah tanah keras, akhir dari gurun.

Kartu data menandai titik itu sebagai:

Sempadan Zaitra — Gerbang alami menuju Tebing Zaitra

Saat mendekat, Mufasa melihat seseorang berdiri sendirian di atas tanah keras, menghadap ke arah gurun. Orang itu mengenakan rompi pelindung, celana taktis, rambut coklat, tubuh tinggi.

Ketika Aile Strike berhenti, orang tersebut mengangkat tangan memberi sinyal damai.

Identifikasi muncul dari kartu data:
Nama: Tarven Gale
Status: Penjelajah independen wilayah Zaitra

Tarven berteriak, suaranya keras meski tanpa alat komunikasi:
“Kalau kau sampai sejauh ini, kau pasti menuju Pilar Cahaya.”

Mufasa turun dari kokpit dengan hati-hati, menuruni kabel penjangkar.

“Aku Mufasa Martodimejo. Tujuanku ke sana.”

Tarven mengangguk pelan.
“Kalau kau mau mencapai Pilar Cahaya, kau harus melewati Tebing Zaitra. Dan kau akan butuh tahu sesuatu… sesuatu yang tidak tercatat dalam kartu datamu.”

Mufasa menatap lurus, menunggu penjelasan.

Tarven menatapnya balik tanpa ragu.

“Di Tebing Zaitra, yang menghalangi bukan monster… tapi manusia.”

Ucapan itu mengubah atmosfer seketika.

Aile Strike berdiri kokoh di belakang Mufasa, seperti bayangan setia yang siap bertempur kapan saja.

Angin kering gurun lewat perlahan, membawa ketegangan yang melipatgandakan suasana.


Bersambung ke Episode 85: “Tebing Zaitra — Pasukan Penolak Pilar Cahaya”

Share on Social Media